Kamis, 27 Mei 2010

PAKAIAN SUKU DAYAK

Oleh : MisRita Kalang
Berpakaian bagi orang Dayak dimaksudkan sebagai pelindung terhadap sengatan matahari. Itu sebabnya pakaian perempuan maupun laki-laki Dayak hanya menutupi bagian atas badan pada waktu mereka bekerja di ladang dan pada waktu mengadakan perjalanan jauh melalui sungai. Tetapi dalam rumah, mereka memakai pakaian sesedikit mungkin. Pada waktu pesta penambahan pakaian dimaksudkan untuk keindahan.
Bahan pakaian orang Dayak terbuat dari kulit pohon, yang dipukul menjadi tipis dan hancur, kemudian semua bagiannya yang lunak dilepas di air sungai yang mengalir. Bahan pakaian yang lain adalah dari kain katun buatan eropa yang dibawa oleh saudagar Melayu atau Cina.
Pakaian yang paling sederhana bagi kaum laki-laki adalah celana pendek atau panjang terbuat dari selembar kain katun dan yang digemari biasanya berwarna putih, biru atau merah. Keindahan yang diperoleh dari pakaian ini adalah dari bahan yang dipakai.
Kaum laki-laki Dayak juga suka memakai perhiasan-perhiasan : gelang kaki, dan gelang di atas siku, kalung leher dan anting-anting. Cincin dan gelang dianyam sendiri terbuat dari rotan (uwei) yang sangat tipis dan dari kabalan (seutas serat inti berwarna coklat tua atau hitam dari tumbuh-tumbuhan menjalar yang menyerupai paku. Serat tanaman yang berwarna kuning keemasan dipakai untuk memperindah cincin-cincin tersebut. Menurut bahan bakunya cincin dan gelang itu dinamakan laku kabalan atau laku uwei.
Topi dipakai oleh kaum laki-laki agar terhindar dari sengatan matahari atau hujan lebat. Bentuknya sama dengan topi kaum perempuan, tetapi mempunyai garis lintang lebih dari 50 sentimeter. Pada topi diberi tambahan sulaman atau manik-manik pada bagian tengahnya, sedangkan permukaannya ditutupi gambar indah dari kain katun hitam. Hanya kaum lelaki tua yang boleh memakai bulu ekor burung enggang pada topinya. Bulu-bulu ini sering bergantungan pada untaian manik-manik.
Pakaian laki-laki Dayak lainnya yang tidak kalah penting adalah pakaian perang. Bagian terpenting dari pakaian perang adalah baju tebal tanpa lengan yang terdiri dari dua lapis katun, yang diisi dengan kapuk yang dibentuk bujur sangkar. Maksudnya adalah memberi perlindungan terhadap tusukan tombak dan sayatan parang. Baju ini dilengkapi oleh topi perang dari rotan. Sehingga secara keseluruhan merupakan perlindungan pejuang yang utama. Topi perang ini diberi hiasan manik-manik pada bagian atasnya dan hiasan-hiasan aneh pada pinggirnya, dilengkapi dengan topeng logam yang mengkilap atau tiruan topeng. Ujung atasnya diberi bulu burung yang panjang. Bulu burung yang disukai adalah burung enggang, burung ruwai, dan ayam jantan. Sebagai lapisan luar baju perang dibuat dari kulit binatang seperti kulit harimau dahan atau kulit kambing berbulu panjang. Ada juga yang dibuat dari kulit pohon yang dihiasi dengan sulaman bergambar binatang.
Kaum wanita di dalam rumah memakai sepotong kain berukuran bujur sangkar yang diikatkan pada sudut atas dengan pita disekeliling pinggang, rok ini ada yang berbentuk panjang sampai mata kaki atau lebih pendek hanya sampai lutut. Rok ini terbuat dari kain katun. Untuk memperindah pakaiannya mereka menambahkan kain sutera polos yang indah di bagian tengah untuk pakaian pesta sedangkan pinggirannya ditambah dengan kain flanel merah. Bagian bawahnya dihias dengan sepotong renda perak. Bagian atas tubuh ditutupi dengan baju kurung dengan atau tanpa lengan.
Lebih daripada kaum laki-lakinya, kaum wanita senang berdandan dengan kalung manik-manik, gelang dan cincin yang indah. Kaum wanita juga lebih berpengalaman membedakan dan mengenal manik-manik tua dan mahal. Walaupun sedang tidak mengenakan pakaian pesta mereka suka memakai cincin dan gelang rangkap dari manik-manik yang sangat tua dan mahal. Jenis manik yang lebih kecil dibuat kalung yang digemari oleh para gadis dan wanita untuk menghias diri.
Cincin tidak menunjukkan sesuatu yang luar biasa, akan tetapi kaum lelaki atau perempuan gemar menghias jarinya dengan batu berwarna atau yang mengkilap.
Pakaian berduka adalah pakaian kuno yang dibuat dari kulit pohon, dan bagi mereka yang tidak memilikinya harus membuat pakaian berkabung dari kain katun putih biasa sampai masa berkabung selesai. Tetapi sering terjadi keluarga dekat masih mengenakan pakaian berkabung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebagai pernyataan rasa duka mereka. Melalui cara ini pula, para janda memberitahu niat mereka untuk tidak menikah lagi.
 Laki-laki Dayak berpakaian Tradisional